Saturday, 26 July 2014

Untitled #2

Kita menunjukkan penghargaan kepada orang lain bukan karena 'siapa' mereka, tetapi karena diri kita sendiri :)

Dauroh Tarqiyah Tarbawiyah
Bangil-Pasuruan, 20-24 Juli 2014

Untitled #1

Sungguh, pada setiap karunia yang Allah berikan kepada kita, terdapat "amanah" yang harus kita tunaikan :)

Dauroh Tarqiyah Tarbawiyah
Bangil-Pasuruan, 20-24 Juli 2014 

Friday, 25 July 2014

Selamat Jalan Ramadhan..

Ramadhan..
Tinggal menghitung hari kepergianmu..
Meninggalkan kesedihan dalam qalbu..
Aku disini terpaku, takut tak bertemu lagi denganmu..

Ramadhan..
Begitu cepat kau tinggalkan kami..
Segalanya sangat berarti..
Padahal sampai saat ini, kami belum sepenuhnya perbaiki diri..
Adakah mungkin kau kembali?

Ramadhan..
Betapa kami akan sangat merindu..
Setiap detik yang kami lalui bersamamu..
Setiap amalan yang dilipatgandakan dalam bulanmu..

Ramadhan..
Sejujurnya aku menangis..
Sejujurnya aku tak rela melambaikan tangan berkata "Selamat Jalan" padamu..
Sejujurnya aku ingin setiap hari adalah hari-hari bersamamu..
Tapi tidak.

Ramadhan..
Aku harap kita dapat bertemu kembali..
Dalam hati yang lebih suci..
Dengan amalan-amalan yang lebih berarti..

Rabbii..
Sampaikan kami di Ramadhan esok hari..

Amiin..

Sunday, 13 July 2014

Thanks for Watching :)

Bismillah..
Short Video ini bermula dari sebuah kesengajaan yang terjadi dengan saya dan tiga orang teman lainnya.
Saya sebut 'kesengajaan' karena Short Video ini merupakan hasil ide kami berempat yang akhirnya tertuang begitu saja -hahaha-. Dan ide-ide kami muncul karena ini adalah sebuah tuntutan yang bisa disebut dengan TUGAS TIK :D
Tapi tidak mengapa, justru kami sangat berterimakasih kepada guru TIK, Ustadz Eko Suramto karena tanpa 'tugas yang diberikan' ini, mungkin kami tidak akan berkarya :D
Jazakumullah Khoiron Ustadz Eko :D
Silahkan klik link di bawah ini :)
PPTQ SMP IT dan SMA IT Ibnu Abbas Klaten

Wednesday, 7 May 2014

Over My 15 Years

Bismillah..

Entah mengapa, ketika saya pulang ke rumah (karena libur sekolah dan pondok) saya merasa sangat bahagia *curhat* Padahal kalau dipikir-pikir, kegiatan di rumah hanya membantu orang tua menyelesaikan pekerjaan rumah (nyapu, ngepel, cuci piring, jemput adik sekolah, dll), nonton tv, main laptop, belajar (walaupun sedikit :D), dan sisanya tak berkegiatan.
Lama merenung, akhirnya saya mendapat jawaban. Ya. Orang tua dan adik-adik saya.

Dan sejak saya SMA juga, saya lebih merasakan betapa hebat sosok orang tua di mata saya (dan di mata semua orang). Membiayai sekolah ketiga anaknya yang lumayan mahal (SPPnya), terlebih, kebutuhan-kebutuhan saya yang notabene anak pondok.

Selalu, setiap saya akan kembali ke pondok, Umi (ibu) saya selalu bertanya "Kebutuhanmu apa aja nduk?" atau ketika saya bersama Umi sedang belanja kebutuhan saya, saya bilang "Wah mi, buanyak yang dibeli.." sambil merasa bersalah. Dan Umi berkata dengan tulusnya "Nggak apa-apa, kan kebutuhan tho.." Hati saya langsung luluh dibuatnya.

Abi (ayah) tak kalah berjasanya dengan Umi. Beliau adalah motivator terbesar dalam hidup saya.
Memang, Abi tak terlalu nampak sayangnya seperti Umi, tapi beliau mengungkapkan sayangnya dengan cara berbeda. Beliau bekerja keras pagi hingga malam hanya untuk istri dan ketiga anaknya. Peluh keringat yang mengucur tak ia pedulikan demi keluarganya.
Pernah suatu ketika saya bilang "Ya Allah bi, SPPku mahal banget ya.. Dulu SMP cuma *.....* sekarang naik banget jadi *....*" Lalu Abi berkata "Ya, Alhamdulillah bersyukur, Abi masih bisa membiayai.."

Subhanallah.. Betapa mulia dan berartinya orang tua untuk anak-anaknya.
Dan karena semua itulah Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al Israa': 23)

Betapa besar jasa orang tua, dan kewajiban kita adalah mentaati keduanya (ibu bapak) selama perintahnya tidak melanggar aturan Allah.

Besar harapan orang tua agar kita menjadi anak yang taat, yang bisa membahagiakan mereka, membuat bangga, terlebih jika karena perbuatan kita dapat menjadikan ibu bapak masuk ke Jannah-Nya. Rasa terimakasih kami tak cukup hanya terlontar dari kata-kata.

Umi, Abi, thanks a lot for over my 15 years in this world. I'm so sorry for all painful caused us (Alifa, Aufa, Adiba) We promise, we'll fight to make you proud of us. And we hope, we can be a great children for you. 
Wish Allah blesses you :)
Love you, Umi Abi.

_____________________________________________________ Your children
                                       Alifa Dzakiyah, Abdullah Aufa, Adiba Muflihah

Hati Bicara Rasa

Pernah hati ini berbicara
Tentang ia dan rasa
Begitu saja hadir tanpa sapa
Dan pergi tinggalkan hampa

Sekalipun aku tak pernah menyebut kita
Karena ia dan aku sungguh berbeda
Seperti ada dinding diantara keduanya

Pernahkah kau berfikir bagaimana rasanya dipisahkan?
Pernahkah, sedikit saja kau rasakan betapa berat menjadi aku

Aku membenci jarak, namun juga menyukainya.
Benci karena ia memisahkan segala yang telah terjadi
dimana cerita hidup bergolak dan berseri
Dan suka karena darinya lah tercipta rindu
Meski aku tak tau ia hadir karena apa

Sungguh, samasekali aku tak pernah berhasil mengerti
Cerita kau dan aku belum berhenti
Aku selalu bertanya dalam hati apa maksud semua ini
Namun semua tertutup rapi

Kini, hanya dapat kupasrahkan segala cerita hati pada-Nya
Ya, hanya Ia satu-satunya penolong atas segala resah di jiwa
Sebelum terungkap semua rasa

Yaa Muqallibal Quluub
Tsabbit Quluubana 'alaa Diinik
Yaa Musharrifal Quluub
Sharrif Quluubana 'alaa Thoatik



Sunday, 29 December 2013

Hadirkan Cinta Pada Tiap Detailnya

Bismillah..

Cerita saya bermula ketika saya sedang mengikuti ekskul wajib sekolah yakni mentoring tarbawiyah. Dan, kultum saat itu disampaikan oleh seorang teman saya, ia hanya berkisah tentang teman lamanya di smp, dan kemudian kami mengambil hikmah dari cerita tersebut.
Saya akan menceritakan kembali kisah tersebut, semoga bisa menginspirasi kita semua :)

"Saya punya teman ketika smp dulu. Suatu ketika, teman saya mengajak saya untuk berkunjung ke rumah salah seorang ustadz untuk konsultasi. Saya kaget ketika ustadz saya bilang ke teman saya, 'sudah diminum obatnya?' Saya bertanya dalam hati, sakit apa yang diidap oleh teman saya ini. Dalam perjalanan pulang kembali ke pondok, barulah dia cerita, ternyata dia mengidap penyakit jantung, tapi dia samasekali tidak pernah terlihat murung atau sedih, samasekali tidak pernah, itu yang membuat saya kagum. Dan saat itu adalah saat2 ketika akan wisuda perpisahan. Ia berpesan kepada saya, singkat tapi sangat mendalam, 'JAGAIN QUR'AN YAA, SESIBUK APAPUN KAMU POKONYA KAMU HARUS JAGAIN QUR'AN. DAN, HADIRKAN CINTA PADA TIAP DETAILNYA, KARENA CINTA PADA SESUATU MEMBUAT KITA LEBIH IKHLAS MENJALANINYA'"

Kira-kira seperti itu ceritanya, yang membuat saya menitikkan air mata saat teman saya bercerita.
Hikmah yang bisa diambil adalah, hendaknya kita menghadirkan rasa cinta kita terhadap apapun yang kita lakukan, agar kita lebih ikhlas menjalaninya, dan jika sudah ikhlas, maka Insya Allah semuanya akan terasa mudah dan dimudahkan.

Semoga bermanfaat untuk kita semua :)
Special thanks to Allah and Anisaa Rachman Febriananda for giving me big motivations :)) 

Merenda Harap

Pandemi belum juga berakhir Satu dua hal yang direncanakan seolah mangkir Sesuatu yang tak pernah terfikir Atas kuasa-Nya begitu saja hadir ...