Tuesday, 27 November 2018

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana, Sapardi Djoko Damono)
Sesekali, matanya berbinar
Memandang senyum bahagia sosok didepannya
Ingin berkata sesuatu tapi terlalu naif

Sesekali, tawanya terdengar tulus
Melihat tawanya yang juga tulus
Ada yang ingin diucapkan, tapi tak punya nyali

Semangat!!
Ucapnya dari lubuk hati terdalam

Sunday, 25 November 2018

Nanar.
Pandangannya sayu

Ada rindu yang tak tersampaikan,
Ada kenangan yang tak tergantikan

Pilu.
Ingatannya melayang
Pada perjuangan menembus hujan
Demi sebuah bekal menghadapi masa depan

Friday, 23 November 2018

"Nafas Kita Harus Panjang"

Kehidupan di kampus memang selalu menarik untuk diceritakan
Dinamika yang sudah satu tingkat 'luar biasa' dibanding dinamika di masa-masa sekolah membuatnya selalu mengesankan.

Pernah, suatu saat aku mendengar kakak tingkat, bercerita tentang perjuangan seorang sahabat di masa Rasulullah SAW yang berdarah-darah, yang walaupun salah satu lengannya sudah ditebas oleh musuh, ia terus saja berjuang, memperjuangkan agama yang diyakininya dengan sepenuh hati, memperjuangkan izzah islam di masa itu.

Aku merefleksikan sikap 'totalitas'ku dalam perjuangan di kampus selama dua tahun terakhir ini
Aku merefleksikan 'totalitas' dalam perjalanan yang ku kira sudah begitu panjang untuk ukuran mahasiswa semester lima sepertiku

Ah, totalitas?

Bahkan mendengarnya aku sangsi

"Nafas kita harus panjang, akh!" Kata salah seorang kakak tingkat waktu itu.

Dalam. Dalam sekali maknanya.

Kalimat yang selalu terngiang di benakku hingga saat ini

Dalam perjuangan ini,
Dalam perjalanan ini,
Dalam kehidupan ini,
Mungkin nafas kita sudah tersengal, bahkan hanya untuk sekedar membicarakannya sebentar saja
Tapi usia perjuangan ini lebih panjang -bahkan- dari usia kita sendiri.
Aku pikir, seharusnya memang 'nafas' perjuangan ini selalu panjang
Setidaknya, sepadan dengan usia yang Allah beri kepada kita

Karena tak ada yang ringan dalam perjuangan, yang ada hanya saling meringankan
Maka 'nafas' yang harus kita jaga bersama adalah nafas yang tak pernah putus

Ya. Nafas kita harus panjang!
Sepanjang kesempatan yang Allah beri untuk memperjuangkan Diin-Nya.

Malang, 23 November 2018

Monday, 19 November 2018

(L)ovember

When November comes
It feels hard for balancing many things

When November comes
Many things must be compromised

When November comes
Our friendship is tested

When November comes
We are required to be more patient

When November comes
Time management is needed

When November comes....

Could November be (L)ovember?



Monday, 2 April 2018

Tak perlu berharap banyak pada manusia, karena manusia toh tak punya apa-apa
Tak perlu bersedih terlalu dalam karena manusia, karena manusia hanya perantara pembelajaran dari-Nya

Friday, 13 May 2016

Membaur, tetapi Tak Melebur

Bismillah.


 Sudah lama sekali saya tidak menulis sesuatupun disini. Ya, sepertinya berbagai macam kesibukan telah menyita waktu saya untuk sekedar menulis sepatah atau dua patah kata disini :) Tapi tak apa, Alhamdulillah Allah masih memberi saya kesempatan untuk menulis kembali.

Cerita ini bermula dari beberapa bulan lalu. Bulan-bulan dimana saya dan kawan-kawan harus ekstra "BELAJAR" demi menaklukkan sebuah tantangan bernama "UJIAN NASIONAL". Dan Alhamdulillah, kami dapat melewati ''masa-masa ujian'' itu dengan baik.

Perjuangan belum berakhir. Setelah Ujian Nasional selesai, kami harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.

Singkat cerita, saya pulang ke rumah selama kurang lebih 1,5 bulan untuk mengikuti bimbingan belajar/les sebagai persiapan mengikuti SBMPTN.

Nah, di tempat les itulah saya mendapatkan banyak hal. Teman baru, guru baru, pelajaran baru (karena SMA saya mengambil jurusan IPA, sedangkan kuliah saya mengambil kelompok soshum/IPS), dan suasana baru tentunya.

Pertama kali saya masuk, saya sedikit kaget atau bisa dibilang sempat mengalami culture shock. Saya yang notabene ''anak pondok'', sedikit banyak pasti 'kudet' soal kehidupan di luar. Teman-teman les yang memakai jilbab transparan, pakaian yang membentuk tubuh, kata-kata keseharian yang terucap, dan tingkah laku lain yang selama ini jarang saya temui. Tapi saat itu saya sadar, dengan ke'berbedaan' saya, saya tidak boleh minder dan kuper. Justru saya harus membaur dan menunjukkan bahwa saya juga bisa 'seperti' mereka. Membaur tetapi tidak melebur. Begitu prinsip saya saat itu. Dan Alhamdulillah, sampai hari ini, saya sudah bisa membaur dengan mereka, dan hampir setiap hari melempar canda.

Mungkin itu terbilang hal yang sepele di mata pembaca sekalian, tetapi tidak bagi saya.
Dengan suasana seperti itu (di tempat les), setidaknya saya sudah mendapatkan sedikit gambaran bahwa, akan seperti itulah kehidupan saya nanti. Tidak homogen, tetapi dengan keberagaman perspektif serta prinsip hidup. Dan tentu, kewajiban berdakwah selalu ada disana. Perlahan tapi pasti.

Selamat Berjuang, kawan! Semoga Allah selalu menyertai langkah kita semua.
Aamiin.  

Merenda Harap

Pandemi belum juga berakhir Satu dua hal yang direncanakan seolah mangkir Sesuatu yang tak pernah terfikir Atas kuasa-Nya begitu saja hadir ...