Friday, 4 September 2020

Merenda Harap

Pandemi belum juga berakhir

Satu dua hal yang direncanakan seolah mangkir

Sesuatu yang tak pernah terfikir

Atas kuasa-Nya begitu saja hadir


Tak bersua dengan manusia

Tak bercakap dengan tetangga

Menjadi suatu hal yang tak biasa

Kali ini giliran rindu bercerita


Sesulit apapun itu, semoga tak ada prasangka

Membiarkan jalan cerita ini mengalir apa adanya

Friday, 31 July 2020

Mengenang Perjuangan

Hari ini adalah hari dimana seluruh umat islam di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Adha. 
Namun tentu saja Idul Adha pada tahun ini terasa berbeda. 
Ya, pandemi Corona masih menjelajahi tempat tinggal kita semua, oleh karena itu tak semua masjid penuh sesak dengan jam'ah shalat Ied, tak semua tempat penyembelihan hewan qurban penuh dengan anak-anak kecil yang mengamati penyembelihan hewan qurban. 

Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, hari ini membuat saya sedikit banyak bernostalgia tentang shalat Idul Adha terakhir di kampus. 
Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa tahun lalu adalah shalat ied terakhir saya di kampus. Lagi-lagi karena Corona. Namun atas semuanya, masih banyak hal yang harus disyukuri bukan? :) 

Di akhir masa studi ini, saya banyak diingatkan oleh empat tahun perjalanan saya di kampus. Bagi saya, setiap semester selalu memiliki tantangan dan kenangan tersendiri. 

Semester satu, banyak dihadapkan pada realita bahwa ternyata kehidupan di luar begitu dinamis. 
Semester dua sudah mulai membiasakan diri sebagai anak kuliahan.
Semester tiga mulai jadi 'penikmat' organisasi kampus.
Semester empat belajar menjadi 'penggerak' kampus. 
Semester lima masih berkutat di organisasi sembari memikirkan rencana magang dan tugas akhir.

Belum selesai berorganisasi di semester lima, di semester enam justru saya turut menjadi bagian 'top position' di organisasi tingkat fakultas. Sudah ngos-ngosan sekali rasanya, ingin berhenti dari organisasi, mulai menggarap skripsi layaknya mahasiswa lain, tapi nyatanya Allah tetap inginkan hamba-Nya yang hina ini membagi sedikit yang dimiliki untuk generasi setelahnya. 
Tetapi betapa Maha Baiknya Allah. Di semester enam, walaupun sudah 'ngos-ngosan' (bahasa jawa, re: capek) berorganisasi, Allah anugerahkan kesempatan untuk mengikuti lomba MTQMN (Musabaqah Tilawatil Qur'an Mahasiswa Nasional) di Aceh yang sudah sejak semester tiga saya cita-citakan. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmusshalihat. Meskipun tidak menang, namun rasa syukur atas pengalaman karantina selama tiga bulan sebelum keberangkatan ke Aceh dan segala pembelajaran tetap terukir di hati. Segalanya hanya karena Allah. 

Semester tujuh masih di posisi yang sama dengan semester enam. Di awal semester tujuh, saya sempat bolak-balik melakukan perjalanan Sidoarjo-Malang PP empat kali sepekan selama satu bulan dikarenakan orang tua saya sedang haji dan saya harus mengurus kedua adik saya. Urusan organisasi tidak bisa membuat saya serta merta berdiam diri di Sidoarjo, maka dari itu saya harus PP Sidoarjo-Malang dan sebaliknya. Bagi orang lain mungkin tidak terlalu sulit. Tapi bagi saya terkadang rasa lelah itu muncul; menggantikan peran ayah dan ibu -karena kami tidak punya ART- (re: masak, mencuci baju, beres-beres rumah, mengantar-jemput sekolah adik-adik, dll) dan masih harus mengurus organisasi di Malang itu sesuatu sekali. Belum lagi harus mulai menghubungi dosen pembimbing skripsi yang tidak selalu ada setiap hari :D Namun dari sini saya belajar, menjadi orang tua tidak sebercanda itu ya! :D Butuh tanggung jawab juga ilmu :)

Di semester delapan, banyak hal yang berubah, atau saya yang berubah? Wkwk
Urusan skripsi, tugas akhir, menjadi satu hal baru dan mau tidak mau, suka tidak suka harus dilakukan (dan diselesaikan tentunya haha). 
Di semester delapan, saya bertekad untuk mencari pekerjaan sembari menyelesaikan skripsi. Alhamdulillah saya diterima mengajar di sebuah Rumah Tahfidz Balita di Malang. Sama seperti niat saya di awal ketika ingin mengajar, 'saya cuma pengen belajar gimana sih cara mendidik'. Dengan kesoktauan saya, saya berusaha menjalani hari-hari yang lumayan berat. Menghadapi anak berusia 3-5 tahun yang masih suka berlari kesana kemari, nangis, bahkan ngompol (wkwk) itu MasyaAllah :) Hingga sampailah pada bulan April, saya mengalami kecelakaan dan mengharuskan istirahat selama dua bulan dan mengurangi aktivitas (saran dokter), akhirnya saya memutuskan resign dari mengajar. 
Awalnya sempat ragu tapi tak apa, InsyaAllah ini pilihan yang terbaik :)

Ya, ternyata setiap detik kita adalah perjuangan.
Dan menurut saya, tidak ada perjuangan yang tidak layak dikenang.
Lebih dari itu, perjuangan yang sudah kita lalui di hidup sebelumnya semoga memberi satu kekuatan di masa sekarang dan selanjutnya bahwa hidup akan terus berjalan, bersama atau tanpa kita. 
Jadikan perjuangan kita di masa lalu menjadi pelecut semangat berjuang kita di masa sekarang dan masa depan :))
Jadi, perjuangan mana yang ingin kamu kenang? :)

Sidoarjo, 31 Juli 2020, 9:52 pm 

Saturday, 18 July 2020

Persimpangan

Bismillah.
Alhamdulillah, setelah dua bulan 'mangkir' menulis, Allah gerakkan jemari saya untuk kembali ke sini,
setelah banyak hal terlewati.

Beberapa hari ini, banyak kabar membahagiakan, namun tidak sedikit juga kabar menyedihkan. 
Baru saja, ba'da maghrib tadi, Ayah memberi kabar bahwa salah seorang sahabat dekatnya telah Allah panggil menghadap-Nya. Sahabat yang merawat Ayah saya pasca operasi, sahabat Ayah saya yang begitu mulia cita-citanya; ingin membangun rumah sakit yang diperuntukkan khusus orang muslim. 
Beliau pernah menyampaikan, "Sudahlah, kita (para dokter) itu hidupnya biasa saja, yang sederhana saja, para ahli pendidikan itu sudah berhasil membangun banyak sekolah islam, masa kita para dokter belum bisa membangun rumah sakit islam."

Qadarullah, sebelum cita-citanya tercapai, Allah panggil terlebih dahulu ke sisi-Nya. 
Amal-amal baiknya menjadi kenangan di setiap orang yang mengenalnya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu.

Satu bulan yang lalu, orang tua juga mengabarkan bahwa mereka telah kehilangan salah seorang sahabat terdekatnya pula. Sahabat yang telah merawat banyak pasien yang terinfeksi corona. Dan ternyata, corona juga merenggut nyawa sahabat kedua orang tua saya. 

Meskipun saya tidak mengenal sahabat orang tua saya secara personal, tapi saya turut merasakan kehilangan yang sangat. 
Bagaimana tidak, kehilangan orang yang telah banyak berjasa dalam hidup kita, kemudian Allah panggil, meninggalkan kenangan baik di setiap hati orang yang ditinggalkannya. 

Di masa pandemi ini, sepertinya, 'mati' adalah hal yang terlihat mudah. Setiap hari, kita disuguhkan berita tentang tenaga medis, karyawan, atau rakyat biasa yang meninggal karena terinfeksi Corona. 
Maka pertanyaannya adalah, sudah sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk kehidupan yang nyata nanti?
Rumah yang kita miliki, pengetahuan yang kita miliki, karya yang kita cipta sendiri, sejatinya hanya titipan yang nantinya akan kembali. Hanya amal jariyah yang masih bertahan mengaliri diri kita di kubur nanti. Hidup ini bagai persimpangan di tengah jalan, sebelum nanti bertemu jalan terakhir yang akan mengantarkan kita kembali.

Maka mari bersama-sama menanggalkan ego kita sejenak untuk membantu dan meringakan beban saudara kita, bagaimanapun caranya asal diridhai-Nya.
Maka mari bersama-sama, kita mencari ladang kebaikan yang dengannya kita bisa menginvestasikan pahala yang mempermudah kita ketika datang hisab-Nya. 
Jangan sia-siakan ladang kebaikan yang telah menanti kita di depan mata, karena sekali lagi, kita mati tidak membawa apa-apa, hanya amal jariyah dan doa orang-orang yang 'sudi' mendoakan kita. 
Jangan hanya membangun networking dunia, tapi carilah networking akhirat dengan banyak membantu, beramal, agar nantinya orang yang kita bantu, orang yang kita ringankan bebannya di dunia, berkenan mendoakan kebaikan untuk kita. 

Semoga kelak Allah panggil kita dalam keadaan yang terbaik, dengan husnul khatimah.


Sidoarjo, 18 Juli 2020 9:18 PM




Saturday, 2 May 2020

Kesempatan Kedua

Bismillah.

Kali ini saya ingin bercerita, lebih tepatnya merefleksi diri dari peristiwa yang saya alami kurang lebih satu bulan lalu.

Hari Jum'at malam itu, 3 April 2020, peristiwa -yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya- itu terjadi. Selepas Shalat Isya bersama keluarga di lantai dua rumah, saya mengambil smartphone untuk mengambil foto suasana malam hari dari balkon rumah lantai dua.

Qadarullah, ketika itu saya dan keluarga baru saja pindah rumah. Kondisi rumah belum sepenuhnya selesai direnovasi. Di balkon lantai dua, ada lubang untuk dipasang tangga putar nantinya, tetapi malam itu, tangga memang belum terpasang, sehingga kami (keluarga) memang harus ekstra hati-hati jika berjalan di balkon. Karena lubang itu akan langsung menyambung ke teras rumah lantai satu.

Posisi saya ketika itu menghadap barat, sedangkan lubang tangga berada di timurnya. Saya membelakangi lubang tersebut. Untuk mencari angle foto yang bagus, saya mundur dan mencari posisi yang terbaik -versi saya-.

Sampai, saya tidak menyadari di belakang saya ada lubang untuk tangga yang belum terpasang. Saya berjalan mundur..mundur..mundur.. Daaan....

Saya seperti sedang melakukan terjun payung saat itu. Yang saya ingat, saya berteriak "Ummiiiiiii..." Pandangan saya gelap. Saya menutup mata. Masih sedikit tidak percaya akan 'terbang' seperti ini.

Daaaasssss! Tubuh saya terhempas di atas ubin teras rumah lantai satu dengan benturan yang sangat keras. Saya terjatuh dari balkon rumah lantai dua ke teras rumah lantai satu setinggi tiga meter.

"AAAAAA..." teriak saya waktu itu

Saya merintih kesakitan.

Sayup saya mendengar suara banyak orang mengucap "Innalillaaah..."

"Mbaak, Astaghfirullah........ Istighfar mbaaak, istighfar mbaaak.. Dek Diba tolong ambilkan minum. Ya Allah nak..nak... Istighfar mbak, istighfar mbak Alifa.. Mbak Alifa denger ummi kan mbaak? Mbaak.."

Saya mendengar dengan setengah sadar kata-kata Ummi (ibu) saya ketika itu. Saya hanya merintih kesakitan dan sedikit sulit bernafas, mungkin karena kondisi badan masih shock.

"Aaa.. Astahgfirullah.. Aaaa.." Saya terus merintih kesakitan.

"Iya sebentar ya mbak, habis ini ke rumah sakit. Sabar ya nak.. sabar.. Ya Allah.." Suara ummi menandakan betapa paniknya beliau saat itu.

Kemudian saya dibopoh oleh tetangga dekat rumah untuk masuk ke mobil.

Dan ngeeeng, mobil yang Abi (Ayah) kendarai melesat cepat menuju rumah sakit terdekat

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, hanya terdengar suara isak tangis Ummi, juga Abi yang terus mengucap "Laa haula Wa Laa Quwwata Illaa Billah.." terus begitu..

Beberapa menit kemudian, sampailah saya, Abi dan Ummi di rumah sakit.

Para perawat segera mengambil hospital bed dan menidurkan saya di atasnya. Hospital bed segera melaju ke ruang IGD. Tekanan darah saya diperiksa, dan suster segera menelfon dokter spesialis tulang untuk bertanya tindakan apa yang harus dilakukan untuk saya.

Beberapa menit kemudian, saya diharuskan untuk rontgen bagian tubuh yang sangat nyeri saat itu.

Ummi masih terisak sembari menyuruh saya untuk selalu istighfar..

Setelah kurang lebih 20 menit berada di ruang rontgen, saya diperbolehkan menuju ruang IGD lagi, dan suster berkata ke Ummi "Bu, opname ya"
Saya mendengar samar-samar percakapan Ummi dan suster.
Ummi dan Abi kemudian berdiskusi sebentar dan menyetujui bahwa saya akan diopname.

Tidak lama setelah itu, suster kembali lagi "Ibu, mohon maaf, karena ternyata kamarnya penuh dan kondisinya sedang corona, sehingga pasien yang masih memungkinkan rawat jalan, lebih baik rawat jalan saja nggih.."

Ummi mengangguk, hanya berharap mendapat penangangan terbaik untuk anaknya.

Setelah itu, datang suster yang lain dengan membawa hasil rontgen.
Alhamdulillah, tidak ada tulang yang patah, hanya memar di otot saja, begitu kata suster.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ya, tulisan di atas adalah kronologi peristiwa 'terjun payung' yang saya alami kurang lebih satu bulan yang lalu.

Betapa Maha Baiknya Allah masih memberi saya kesempatan kedua untuk 'melanjutkan hidup'. Tidak terbayang bila akhirnya saat itu adalah saat terakhir saya membuka mata akibat benturan yang begitu keras. Tidak terbayang bila akhirnya Allah membuat salah satu tulang saya patah atau kepala saya terkena gagar otak akibat benturan keras dengan ubin teras rumah saat itu.
Karena di tahun 2016, Abi pernah jatuh dari atap rumah setinggi dua meter dan Qadarullah kaki beliau patah dan harus berjalan menggunakan kruk selama enam bulan.

MasyaAllah..

Haadza min fadhli Rabbi..

Untuk nafas yang telah kita hirup selama bertahun kita hidup
Untuk seluruh kenikmatan yang Allah beri selama bertahun tinggal di bumi
Rasa-rasanya tak pantas bagi kita menggerutu dan merasa kurang atas semua karunia yang Allah beri secara cuma-cuma

Mari, belajar bersyukur, apapun dan bagaimanapun keadaannya, karena Allah Maha Tau segala tentang hamba-Nya.

Sidoarjo, 2 Mei 2020
9:39 PM

Saturday, 11 April 2020

Tentang Perspektif dan Bahagia


Bismillah.

Sudah satu tahun lamanya saya tidak menulis apapun disini :)) Alhamdulillah kali ini hati saya Allah gerakkan untuk kembali menulis, hitung-hitung mencari kegiatan untuk tetap produktif walaupun #SemuanyaFromHome :) 

Saya bukan tipe orang yang suka dikenal atau diperhatikan (emang ada yang merhatiin? Wkwk). Kalau teman-teman, kakak tingkat atau adik tingkat saya mendesain kegiatannya dengan membuat diskusi publik secara daring di akun sosial medianya masing-masing, saya justru orang yang pertama kali akan mengangkat bendera putih karena ‘bukan saya banget’, haha. Maka saya coba untuk menstimulus kembali kemampuan linguistik yang Allah beri ini untuk kembali menekuni hobi sejak SD, menulis.

Saya hanya ingin menulis apa yang selama ini saya rasakan dan terpendam. Barangkali teman-teman pembaca mempunyai dan merasakan hal yang sama dengan saya yang kemudian kita bisa saling bertukar cerita :)

Ya.
Hal pertama yang akan saya tulis adalah tentang PERSPEKTIF.

Dalam tiga bulan terakhir, rasa-rasanya hidup saya semakin berat. Mengingat, jumlah semester yang saya jalani saat ini sudah bukan angka yang kecil lagi, dan menandakan ‘tuntutan’ dari orang tua dan lingkungan untuk segera menyelesaikan studi dan melanjutkan hidup di tempat yang lain akan semakin besar.

Bukan hanya itu, masih banyak ‘tuntutan’ lain selain tugas akhir dan segala tetek bengeknya. Masih ada amanah organisasi yang harus dijalani dengan sebaik-baiknya.

Pada akhirnya, saya berfikir bahwa, hal-hal di atas mungkin tidak akan terasa berat dijalani ketika kita menggunakan perspektif yang berbeda. Ketika kita memandang hal tersebut sebuah ‘tuntutan’, maka kita akan selalu merasa dituntut, dikejar, ditagih, dan lain sebagainya.

Akan menjadi berbeda bila kita menggunakan perspektif ‘tantangan’. Energi yang yang kita gunakan insyaAllah akan tersalurkan dengan positif ketika kita melihat semua itu dengan perspektif ‘tantangan’. Setidaknya, kita akan memotivasi diri kita untuk menyelesaikan tantangan tersebut. Dan ketika dengan izin Allah kita berhasil menyelesaikan tantangan tersebut, kita bisa berkata pada diri sendiri “MasyaAllah, dengan izin-Nya, ternyata aku bisa ya”.

Ya, semua itu ternyata hanya tentang cara pandang kita terhadap sesuatu. Maka kemudian, mari belajar bersama menciptakan hal-hal positif untuk diri kita yang kemudian bisa kita salurkan ke orang lain :)

Hal kedua yang ingin saya bahas adalah tentang BAHAGIA.

Entah mengapa, semakin dewasa, saya merasa tolak ukur bahagia menjadi semakin sederhana. Di umur saya yang ke 21 ini, saya merasa, saya hanya butuh ‘mencintai pekerjaan yang saya lakukan’, tidak lebih. Berbeda ketika saya masih berumur 17-18 tahun, saya bahagia ketika saya memiliki ini dan itu, mencapai ini dan itu, daaaaan masih banyak ini itu lainnya. Bagi saya, bahagia bukan lagi soal materi, followers instagram, jumlah like di postingan, atau apapun itu. Berkumpul, berdiskusi dengan keluarga adalah hal paling membahagiakan yang saya rasakan. Alhamdulillah.

Kemudian pertanyaannya, apakah kita mau menyederhanakan bahagia kita? :D
----------------------------------------------------
Ketika saya membaca ulang tulisan saya di atas, ternyata, arah tulisan saya lebih kepada bahasan kesehatan mental ya? Padahal untuk membahasnya secara teoritis saya bukanlah orang yang mempunyai kapabilitas di bidang itu, hehe. Tapi semoga singkat yang saya tulis ini, ada manfaat yang bisa dipetik, dan memberi energi positif bagi pembaca sekalian. Allahu A’lam.

Sidoarjo, 11 April 2020, 9:49 pm.

Sunday, 30 December 2018

You can find another me on tumblr :)
See you when I see you !

Sunday, 16 December 2018

Saat semua orang berlomba untuk menjadi sempurna, sepertinya sederhana menjadi hal yang langka. Begitu katanya.

Tentang sederhana, bahagia, atau menyederhanakan bahagia?


Sob, nanti kita cerita tentang hari ini ya?
Tentang banyak hal sederhana

Tentang tertawa kita yang sederhana
Tentang keluh kesah tanpa solusi yang selalu kita cerita
Tentang candaan-candaan yang sering tak kita tahu maknanya
Tentang tanggal tua yang memaksa kita memakan apa yang ada
Tentang kota penuh cerita serta makna 



 

Wednesday, 12 December 2018

Husnul Khatimah?

Mohon maaf, tulisan akhir-akhir ini banyak sekali yang berbau amanah :')
Ya bagaimanapun, kita ada dan hidup di dunia ini adalah sebuah amanah, amanah menjadi khalifah dan amanah menjadi hamba-Nya yang pada akhirnya melahirkan banyak konsekuensi yang harus dijalani.

Tentang Husnul Khatimah?
Bukan nama pesantren di Jawa Barat itu, bukan.
Tapi tentang sebuah akhir yang baik.

Siapa yang tak ingin mengakhiri sesuatu yang sudah dimulainya dengan akhir yang baik?
Siapa yang tak ingin meninggalkan sesuatu dengan indah?
Siapa yang tak ingin memberikan kesan terbaik kepada penerusnya?
Aku pikir akan sedikit sekali, bahkan tidak ada.

Melewati masa-masa penuh tantangan bukan hal yang mudah bagiku
Meninggalkan zona nyaman yang terlanjur melekat dalam diri bukan cita-citaku
Menghadapi hari-hari penuh dinamika, sama sekali tak pernah terlintas di benakku

Setelah semua terlewati, masih adakah harapan untuk mengakhiri semuanya dengan sesuatu yang baik?
Apa aku telah gagal menciptakan akhir yang baik?

Hati terkadang menepis, 'masih ada kesempatan untuk memperbaiki!"
Tapi di sisi hati yang lain, 'sayang sekali, waktunya sudah berakhir'

....

Jika pada akhirnya aku gagal menciptakan akhir yang baik, satu-satunya yang bisa kulakukan hanya menitipkan segalanya pada-Nya.
Mengharap pada-Nya agar kelak penerus perjuangan ini selalu diridhai-Nya.

Astaudi'ukumullah.

 


Tuesday, 27 November 2018

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana, Sapardi Djoko Damono)
Sesekali, matanya berbinar
Memandang senyum bahagia sosok didepannya
Ingin berkata sesuatu tapi terlalu naif

Sesekali, tawanya terdengar tulus
Melihat tawanya yang juga tulus
Ada yang ingin diucapkan, tapi tak punya nyali

Semangat!!
Ucapnya dari lubuk hati terdalam

Sunday, 25 November 2018

Nanar.
Pandangannya sayu

Ada rindu yang tak tersampaikan,
Ada kenangan yang tak tergantikan

Pilu.
Ingatannya melayang
Pada perjuangan menembus hujan
Demi sebuah bekal menghadapi masa depan

Friday, 23 November 2018

"Nafas Kita Harus Panjang"

Kehidupan di kampus memang selalu menarik untuk diceritakan
Dinamika yang sudah satu tingkat 'luar biasa' dibanding dinamika di masa-masa sekolah membuatnya selalu mengesankan.

Pernah, suatu saat aku mendengar kakak tingkat, bercerita tentang perjuangan seorang sahabat di masa Rasulullah SAW yang berdarah-darah, yang walaupun salah satu lengannya sudah ditebas oleh musuh, ia terus saja berjuang, memperjuangkan agama yang diyakininya dengan sepenuh hati, memperjuangkan izzah islam di masa itu.

Aku merefleksikan sikap 'totalitas'ku dalam perjuangan di kampus selama dua tahun terakhir ini
Aku merefleksikan 'totalitas' dalam perjalanan yang ku kira sudah begitu panjang untuk ukuran mahasiswa semester lima sepertiku

Ah, totalitas?

Bahkan mendengarnya aku sangsi

"Nafas kita harus panjang, akh!" Kata salah seorang kakak tingkat waktu itu.

Dalam. Dalam sekali maknanya.

Kalimat yang selalu terngiang di benakku hingga saat ini

Dalam perjuangan ini,
Dalam perjalanan ini,
Dalam kehidupan ini,
Mungkin nafas kita sudah tersengal, bahkan hanya untuk sekedar membicarakannya sebentar saja
Tapi usia perjuangan ini lebih panjang -bahkan- dari usia kita sendiri.
Aku pikir, seharusnya memang 'nafas' perjuangan ini selalu panjang
Setidaknya, sepadan dengan usia yang Allah beri kepada kita

Karena tak ada yang ringan dalam perjuangan, yang ada hanya saling meringankan
Maka 'nafas' yang harus kita jaga bersama adalah nafas yang tak pernah putus

Ya. Nafas kita harus panjang!
Sepanjang kesempatan yang Allah beri untuk memperjuangkan Diin-Nya.

Malang, 23 November 2018

Monday, 19 November 2018

(L)ovember

When November comes
It feels hard for balancing many things

When November comes
Many things must be compromised

When November comes
Our friendship is tested

When November comes
We are required to be more patient

When November comes
Time management is needed

When November comes....

Could November be (L)ovember?



Monday, 2 April 2018

Tak perlu berharap banyak pada manusia, karena manusia toh tak punya apa-apa
Tak perlu bersedih terlalu dalam karena manusia, karena manusia hanya perantara pembelajaran dari-Nya

Friday, 13 May 2016

Membaur, tetapi Tak Melebur

Bismillah.


 Sudah lama sekali saya tidak menulis sesuatupun disini. Ya, sepertinya berbagai macam kesibukan telah menyita waktu saya untuk sekedar menulis sepatah atau dua patah kata disini :) Tapi tak apa, Alhamdulillah Allah masih memberi saya kesempatan untuk menulis kembali.

Cerita ini bermula dari beberapa bulan lalu. Bulan-bulan dimana saya dan kawan-kawan harus ekstra "BELAJAR" demi menaklukkan sebuah tantangan bernama "UJIAN NASIONAL". Dan Alhamdulillah, kami dapat melewati ''masa-masa ujian'' itu dengan baik.

Perjuangan belum berakhir. Setelah Ujian Nasional selesai, kami harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.

Singkat cerita, saya pulang ke rumah selama kurang lebih 1,5 bulan untuk mengikuti bimbingan belajar/les sebagai persiapan mengikuti SBMPTN.

Nah, di tempat les itulah saya mendapatkan banyak hal. Teman baru, guru baru, pelajaran baru (karena SMA saya mengambil jurusan IPA, sedangkan kuliah saya mengambil kelompok soshum/IPS), dan suasana baru tentunya.

Pertama kali saya masuk, saya sedikit kaget atau bisa dibilang sempat mengalami culture shock. Saya yang notabene ''anak pondok'', sedikit banyak pasti 'kudet' soal kehidupan di luar. Teman-teman les yang memakai jilbab transparan, pakaian yang membentuk tubuh, kata-kata keseharian yang terucap, dan tingkah laku lain yang selama ini jarang saya temui. Tapi saat itu saya sadar, dengan ke'berbedaan' saya, saya tidak boleh minder dan kuper. Justru saya harus membaur dan menunjukkan bahwa saya juga bisa 'seperti' mereka. Membaur tetapi tidak melebur. Begitu prinsip saya saat itu. Dan Alhamdulillah, sampai hari ini, saya sudah bisa membaur dengan mereka, dan hampir setiap hari melempar canda.

Mungkin itu terbilang hal yang sepele di mata pembaca sekalian, tetapi tidak bagi saya.
Dengan suasana seperti itu (di tempat les), setidaknya saya sudah mendapatkan sedikit gambaran bahwa, akan seperti itulah kehidupan saya nanti. Tidak homogen, tetapi dengan keberagaman perspektif serta prinsip hidup. Dan tentu, kewajiban berdakwah selalu ada disana. Perlahan tapi pasti.

Selamat Berjuang, kawan! Semoga Allah selalu menyertai langkah kita semua.
Aamiin.  

Friday, 1 January 2016

"Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kaya akan jiwa" (Muttafaqun 'Alaih)

Wednesday, 30 December 2015

Meaningful Holiday

Bismillah.


Libur kali ini berbeda. Selain intensitas harinya berkurang, peristiwa demi peristiwa yang terjadi pun berbeda. Entah, mungkin Allah meminta saya untuk memuhasabah diri.

Hari-hari sebelum liburan datang, saya sudah menyiapkan segudang rencana, dan menyusun dengan rapi apa saja yang ingin saya lakukan di liburan nanti. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Abi, satu-satunya orang yang bisa mengantar saya, dan kami sekeluarga berlibur kemana saja, diberi cobaan oleh Allah atas remuknya tulang telapak kaki kiri Abi. Qadarullah. Siapa yang bisa menyangka akan terjadi seperti ini bila sudah ketetapan-Nya. Alhasil, rencana untuk pergi ke kampus dan beberapa tempat lainnya pun dibatalkan.

Namun justru dari sanalah saya jadi semakin banyak Birrul Walidain, kepada Abi, kepada Ummi. Sedih karena melihat kondisi Abi saat ini sampai kurang lebih enam bulan kedepan itu pasti, tetapi Abi pasti akan lebih sedih jika melihat anak-anaknya bersedih. Itu alasan saya untuk tetap kuat dan tegar membantu Abi dan Ummi selama sepekan ini.

Saya juga banyak belajar tentang ketulusan cinta yang tergambar jelas dari sikap Ummi. Dengan hati-hati, Ummi selalu membopong Abi ketika berjalan, menyuapi makanan, dan masih banyak lagi. Padahal, saya tahu raga Ummi tidak sekuat dahulu –karena Ummi sudah semakin tua-. Ditambah dengan banyaknya tamu yang menjenguk Abi. Saya merasakan betul, dan jelas melihat raut wajah Ummi yang sangat lelah. Tetapi senyum yang tersungging di bibir Ummi mengatakan bahwa Ummi tak ingin terlihat lelah.

Suatu hari saya berkata, 
“Mi, jadi nggak pingin balik ke pondok. Baliknya telat aja ya mi, izin ustadzah..”

“Lho, kenapa kok pingin balik telat?”

“Pingin bantu Ummi. Besok, dik Aufa juga balik ke pondok. Ummi nggak ada yang bantu..”

“Ya nggak seperti itu, Lif. Ummi juga pingin anak-anaknya pinter, cerdas. Kalau bantu Ummi terus di rumah nanti nggak jadi pinter.”

“Ya.. Waktunya libur, ya libur.. Waktunya kembali, ya kembali nduk.. InsyaAllah Allah sudah mengatur semua. Doanya Alifa saja untuk Abi, untuk Ummi, untuk adik-adik..”

Saya tercekat. Speechless.

Libur kali ini juga mengingatkan saya akan memori tahun lalu. Dimana saya dan keluarga menghabiskan waktu liburan bersama di kota wisata. Dan tahun ini, kami menghabiskan waktu libur bersama di rumah. Alhamdulillah ‘alaa Kulli Haal.

Allahummasyfi Abi. Get well soon, Abi.
Love Abi Ummi 



Tuesday, 29 December 2015

A Part of My Dream Journey #1

Bismillah
Rabu, 9 Desember 2015.

Cerita ini bermula ketika teman saya Faizah, izin pulang lebih cepat dari waktu perpulangan yang telah ditentukan pondok. Ada sedikit rasa ingin tahu mengapa ia pulang lebih dulu.

Setelah mencari informasi ke sana-sini, barulah saya paham alasan ia pulang lebih cepat. Ia akan mengikuti program tahfidz selama satu bulan di kota nun jauh disana. Entah mengapa ada sedikit rasa kehilangan akan sosoknya. Padahal jelas saya tahu, nantinya ia akan kembali lagi.

Jum’at 11 Desember 2015.

Ketika saya berbincang dengan salah seorang teman seusai shalat isya’ di musholla, pandangan saya tertuju pada Aisyah, adik kelas yang beda tiga tahun dengan saya. Lalu ia berjalan menghampiri saya.

“Mau pulang, Syi?”
“Iya ukh, pamit ya..” Jawabnya.
“Iya.. Kapan balik ke pondok lagi?”
“Sekitar tanggal 13-an InsyaAllah.”
“Kok lama banget?” Saya sedikit kaget.
“Mau ikut Super Manzil di Bogor itu, ukh..”
“Ya Allah...” Saya masih tidak percaya.
“Semoga sebelum lulus aku udah hafal 15 juz, kalau bisa lebih.” Kata Aisyah sambil tersenyum.
“Pamit ya, ukh.. Doakan aku..” Katanya lagi sambil memegangi tanganku.
“Hati-hati ya Syi.. Baik-baik disana..”

Aisyah tersenyum dan pergi.

Lagi-lagi ada sedikit rasa kehilangan dalam hati saya. Padahal sekali lagi saya tahu, bahwa Aisyah akan kembali setelah selesai mengikuti program tahfidz itu, seperti Faizah.
Setelah selesai berbincang dengan teman saya di musholla, saya lekas pergi untuk kembali ke kamar. 
Dalam perjalanan pulang menuju kamar, saya bertemu lagi dengan Aisyah.

“Belum berangkat, Syi?”
“Belum, ukh..”
Tiba-tiba ia memeluk saya. Erat. Saya hampir meneteskan air mata.
“Doakan aku ya, ukh..”
“InsyaAllah..”

Entah mengapa, malam itu saya merasa kehilangan akan dua sosok seperjuangan di pondok ini hanya karena mereka akan berjuang menggapai mimpi masing-masing.
Saya termenung di teras depan kamar, masih saya lihat Aisyah membereskan barang-barang dan memasukkannnya ke mobil.

Saya berteriak.
”Hati-hati, Syiii...”
“InsyaAllah.. Doakan aku nyusul Ukhti Alifaa...” Katanya sambil berteriak pula.
Dan mobil yang mengantarnya pulang pun pergi.

Sungguh, malam itu saya banyak merenung. Me-rethought pikiran dan asa yang sempat tenggelam. Faizah dan Aisyah berkorban dan berjuang untuk meraih impian, sedangkan saya? Masih duduk terdiam dalam lamunan.

Ya Allah, apakah ini bentuk teguran-Mu untukku?
Teguran atas segala keputusasaanku selama ini?

Untuk kalian, Faizah dan Aisyah, sosok yang mengingatkan saya akan harapan..
Terimakasih telah memberiku semangat atas kepergian, perjuangan, dan pengorbanan kalian. Semoga Allah memudahkan segala urusan.
Semoga Allah memudahkan kita dalam menjaga setiap kalam-Nya.



Monday, 28 December 2015

Inspiring People

Bismillah

Berbicara tentang hidup, berbicara pula tentang Inspiring People yang telah banyak memberikan inspirasi-inspirasinya secara langsung maupun tidak langsung kepada saya. Inspirasi-inspirasi yang membuat saya paham akan makna hidup dan segala perjuangan yang ada didalamnya.

1.      Rasulullah SAW

Tak usah ditanya, tentunya semua umat islam akan berkata “Rasulullah adalah tauladan kami”. Ya. Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pembawa risalah terakhir yang Allah utus untuk menyempurnakan seluruh akhlak manusia ini adalah nabi yang bersifat ma’shum, yakni terbebas dari dosa. Jadi, merupakan sebuah keharusan bagi kita untuk bisa meneladaninya. Semoga kita selalu istiqamah dalam menjalankan segala perintah-Nya dan sunnah Rasul-Nya.

2.      Abi (Ayah)

Semoga pembaca sekalian tidak bosan karena tulisan-tulisan saya sering bertema “Orang Tua”. Tapi memang begitu adanya. Bagi saya, Abi dan Ummi adalah inspirasi terbaik dalam hidup saya setelah Rasulullah tentunya.

Suatu pagi, Abi sedang membersihkan atap rumah yang sudah lama kotor dan tidak dibersihkan. Ketika itu, saya, ummi, dan kedua adik saya sedang beraktivitas di dalam rumah.

Tiba-tiba, kami dikagetkan oleh suara  atap runtuh.
Innalillah! Abi jatuh dari atap rumah. Sontak kami kaget. Para tetangga yang mendengar suara itu pun mendekat ke rumah saya dan membantu Abi untuk bangun.
Ummi, saya, dan kedua adik saya juga ikut keluar. “Ya Allah, Bi..” Ummi memekik.
Saya shock.

Abi terbaring dan terlihat masih shock. Sambil memegang kakinya dengan kesakitan, abi meminta tolong kami untuk mengambilkan air minum. Ada beberapa bagian telapak kaki yang lecet. Para tetangga ikut membantu mengambilkan obat merah untuk mengobati lecet di kaki Abi.
Abi masih memegang kakinya sambil sesekali merintih kesakitan.
Para tetangga menyarankan agar Abi dibawa ke ahli tulang terdekat, barangkali tulang kakinya bermasalah akibat menumpu badan agak lama sebelum Abi terjatuh dari atap. Abi setuju.

Singkat cerita, ternyata tulang kaki kiri abi remuk dan agak parah.
Keputusan dokter, kaki kiri Abi harus dioperasi dan perawatan selama enam bulan, serta harus menggunakan ‘krek’ untuk membantu berjalan. Allahuakbar!

Dan dalam keadaan seperti itu, Abi masih sempat berkata “Wah, nggak jadi jalan-jalan, Lif..” What an amazing Abi! Karena sebelum kejadian itu, Abi memang mengajak kami sekeluarga jalan-jalan bersama.

Setelah kejadian itu saya berfikir, ‘Selama enam bulan, abi nggak bisa nyetir mobil, naik motor, dan nggak bisa banyak beraktivitas.’ Ya. Allah mengambil kenikmatan itu dari kami selama beberapa bulan kedepan. Musibah ini adalah pelajaran besar bagi kami bahwa sebenar-benar tempat bergantung dan bertawakkal hanya kepada Allah. Fatawakkal ‘allallah.

Subhanallah..
Dari kejadian itu pula, saya semakin me-muhasabah diri saya bahwa Abi dan Ummi sudah semakin tua. Uban di kepala Abi sudah semakin banyak, tetapi saya –anak pertama yang menjadi harapan besar keduanya- masih begini-begini saja.

Abi adalah motivasi terbesar saya untuk menjadi anak dan wanita shalihah yang kemanfaatannya dibutuhkan oleh ummat.

Abi adalah pahlawan luar biasa yang Allah kirim dalam hidup saya.

Abi adalah salah satu inspirasi terbaik yang pernah saya temui dalam hidup saya.

Salah satu nasihat Abi yang selalu saya ingat, “Kamu belajar yang sungguh-sungguh biar jadi orang sukses dan bermanfaat. Tentang uang, biar Abi Ummi yang nyari. Nggak ada kelezatan kecuali setelah bersusah payah, Lif. Kamu harus lebih sukses dari Abi!” – Terharu.

Semoga, Alifa bisa menjadi seperti yang Abi, Ummi, dan Alifa harapkan.
Semoga, Alifa bisa menjadi Qurrata A’yun untuk Abi dan Ummi.
Semoga, Alifa dan adik-adik bisa memakaikan mahkota kemuliaan di Jannah-Nya kelak.

Allahummastajib du’aanaa.
Allahumma Rabbannaas, Adzhibil Baas, Isyfi Abi Antasy Syaafii, Laa Syifaa Illaa Syifaauka, Syifaa’an Laa Yughaadiru Saqaman.

3.      Ummi (Ibu)

Salah satu inspirasi terbaik selanjutnya adalah Ummi, ibu saya. Terutama dalam hal berdakwah. Saya acungkan dua jempol untuk Ummi.
Walau mengurus tiga anak yang berbeda jenis, watak, kebiasaan dan lain-lain dengan susah payah, tak menyurutkan langkah Ummi untuk berdakwah ke sana-sini.
Mengisi pengajian dari rumah satu ke rumah yang lain tanpa mengesampingkan amanah sebagai seorang istri dan ibu dari tiga anaknya. Subhanallah!

Ummi pula yang sering menguatkan saya, ketika saya sedang futur di pondok.
“Sudah tinggal setahun nduk, di pondok. Ayolah, dimaksimalkan, dikuat-kuatkan.. Doa Ummi, Abi, adik-adik InsyaAllah selalu menyertai Mbak Alifa disana.”
Semoga saya bisa meneladani jiwa berdakwah Abi dan Ummi yang tidak mengenal teriknya matahari {}

Thanks Allah, for giving me The Super Heroes, Abi and Ummi.

Thanks a lot Abi, Ummi for being My Best Inspirator in this life :)

Merenda Harap

Pandemi belum juga berakhir Satu dua hal yang direncanakan seolah mangkir Sesuatu yang tak pernah terfikir Atas kuasa-Nya begitu saja hadir ...